Menyelami Jejak Kesultanan Bacan: Mahkota Sejarah dan Pesona Alam Maluku Utara
Jauh di kawasan Maluku Utara, terdapat sebuah warisan sejarah yang gemilang: Kesultanan Bacan. Berdiri sejak tahun 1332, kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di wilayah tersebut. Awalnya berpusat di Pulau Kasiruta sebelum akhirnya berpindah ke Pulau Bacan, kesultanan ini bukan sekadar pusat pemerintahan masa lampau. Ia adalah saksi bisu kejayaan jalur perdagangan rempah-rempah dan ujung tombak penyebaran agama Islam di wilayah timur Indonesia, khususnya di Maluku Selatan.
Warisan budaya dan sejarah ini terus hidup hingga detik ini. Tradisi adat yang kental, sistem gelar kebangsawanan, hingga peninggalan fisik seperti situs keraton lama, Masjid Sultan, dan makam-makam leluhur masih dijaga erat oleh masyarakat. Saat ini, tongkat estafet kepemimpinan dipegang oleh Sultan Muhammad Irsyad Maulana Syah (Dede Irsyad) yang dikukuhkan pada April 2024, meneruskan jejak langkah mendiang ayahandanya, Sultan ke-21, Sultan Abdurrahim Muhammad Gary Ridwan Syah.
Berbicara tentang Bacan, tentu tidak lengkap tanpa menyebut pesona alamnya yang mendunia: Batu Bacan. Batu mulia dengan warna hijau yang khas ini telah menjadi primadona hingga ke mancanegara. Jika Anda berkunjung ke kawasan Kedaton Kesultanan Bacan, Anda akan disambut oleh bongkahan Batu Bacan raksasa seberat 1,5 ton yang berdiri kokoh sebagai simbol kekayaan alam daerah. Bahkan, keunikan batu ini turut diaplikasikan pada Jembatan Batu Bacan, di mana batu mulia tersebut menjadi bagian dari lantainya, menciptakan daya tarik wisata yang tiada duanya.
Kesultanan Bacan bukan hanya sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah identitas sejarah dan denyut nadi budaya Halmahera Selatan yang akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Lokasi & Peta
Budaya Lainnya
Benteng Barnaveld, Jejak Sejarah Kolonial di Pulau Bacan
Labuha, Bacan, Kab. Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara
Selengkapnya →